免費論壇 繁體 | 簡體
Sclub交友聊天~加入聊天室當版主
分享
返回列表 發帖

23 JULI 1960

本帖最後由 丁发 於 2020-8-1 12:43 編輯
 

23 JULI 1960

  Kepada mereka yang pulang ke RRT meninggalkan tragedy tanpa tujuan ini, aku mengucapkan, bukan saja selamat jalan, tetapi juga selamat, karena telah pilih negeri dimana kerja dihargai, kerja menjadi dasar daripada moral, dimana kepribadian diciptakan melalui kerja, bukan melalui mimbar dan radio parade dan show.
  Pramoedya Ananta Toer "HOAKIAU DI INDONESIA"

  23 Juli 1960 aku bergabung dengan rombongan murid sekolahan JPP Jakarta meningalkan Indonesia menuju negeri leluhur Zhong Guo. Kala itu aku berusia 23th. Aku tandaskan ini, karena dibanding pelajar pelajar lainnya aku sudah "lansia". Hati kami excited bergelora, sumangat berkobar menyala. Dengan derapan langkah kaki, kami akhirnya meninggalkan nyiur melambai tanah tumpah darah, memilih dan menuju negeri leluhur.

  Pelayaran Jakarta - Guang Zhou tujuh hari tujuh malam. Suasana diatas kapal sangat berkontras. Suara ratapan sedu sedan bercampur dengan nyanyian dan gelak tertawa.

  Tidak lama kami tiba di Guang Zhou, dan beberapa hari kemudian kami diangkut ke kota Guiyang propinsi Gui Zhou.

  Kami mulai hidup baru.

  Nah inilah ceritaku.

  Aku lahir di kota kecil Cilacap, Jawa Tengah. Bentuk geografis Cilacap menyerupai peninsula, maka kala itu Cilacap kota kecil dan terisolasi. Kuingat pada tahun 50an ada film Hollywood "The Story Of Dr. Warsell" dengan pelaku utama Gary Cooper, menceritakan evakuasi tentara Australia dan Belanda dari Cilacap menuju Australia. Nah barulah Cilacap mulai disorot dunia luar.

  Rumah kediaman kami bukan di pecinan melainkan di kawasan dimana kami adalah keluarga tunggal keturunan Tionghoa. Dari kecil kawan kawanku semuanya pribumi (maaf aku terpaksa harus megunakan istilah ini) dan hubungan kita amat akrab dan harmonis. Tapi pada suatu hari datanglah keluarga dari propinsi lain. Mereka tak becus ngomong Jawa (Jawa kami Jawa Kapak). Maka mereka merasa amat terisolasi. Namun Cilacap kota kecil, sifat dan moral penduduknya amat polos dan jujur. Tak lama kemudian kita semua rukun dan akrab. Tapi dasar bocah kecil, dalam mainan kucing-kucingan atau cari-carian (Jawa: jonjang) mucullah perselisihan. Pada suatu hari kala satu anak ngumpat dan tertangkap olehku, ia berontak dan menangis serta menuduh aku curang dan mengintip. Aku tidak berbuat demikian maka menolak tuduhannya. Terjadilah pertengkaran. Mendadak ia menuding aku dan berteriak: Cina ! Cina ! Lalu ia dan kakaknya bertepuk tangan dan bernyanyi: "Cina Klontong disangka singkek. Baju buntung celana pendek. Masuk kampung mencuri bebek. Sampai di Jembatan ditangkap Polisi. Sampai dirumah dipentung kursi". Lebih-lebih dengan lafal jawa yang tak tepat ia berteriak "Tjingkolang kata, Tjina ngising di brengkolang bata" (Cingkolang kata Tionghoa berak di pukul dengan bata). Semua tertawa terbahak bahak dan belajar serta ikut nyanyi serta berteriak-teriak. Hatiku terpukul sakit, merasa terasing dan terisolasi. Aku lari pulang. Dan demikian terbentanglah sebuah jurang antara aku dan mereka. Aku termenung lama, sedih dan cemas. Ahkirnya aku sadar bahwa aku ini anak Cina !

  Tahun 1948 Belanda balik kembali ke Indonesia, dengan tedeng aling-aling AKSI POLISIONIL,tapi sebenarnya AKSI MILITER. Rakyat Indonesia yang pada 17 Agustus telah memproklamirkan kemerdekaannya,melawan keras. Rakyat Indonesia melancarkan taktik bumi hangus. Banyak rumah rumah dalam kota dibakar,termasuk Cilacap. Kami lari mengungsi ,tapi celakanya pulang dari pengunsian ternyata rumah lami sudah jadi abu. Dengan sumangat gotong royong orang orang Tionghoa,kami membangun rumah kecil dekat pecinan. Dari kala itulah kami bertetangga dengan banyak Keluarga Tionghoa.

  1953 aku lulus SD dan melanjutkan ke SMP Tionghoa di Purwokerto. Kala itu sekolahan SD Tionghoa Cilacap pro Taiwan dan mengibarkan bendera Bintang Duabelas. Maka dari kecil hingga kini ,aku dapat menyanyikan lagu national anthem Pemerintahan di Taiwan. Di Purwokerto status sekolahan netral tapi Perhimpunan Pelajar yang bernama Wan Zhong pro RRT. Aku active di Wan Zhong, idem ditto aku condong ke kiri. Dari kecil aku ada baca Keng Po, Star Weekly. Maka aku tidak absolute kiri. Tahun 1955 aku lulus dari SMP Tionghoa Purwokerto. Tapi keadaan ekonomi tak mengizinkan aku untuk melanjutkan ke SMA di kota besar (kala itu di Pwt. tak ada SMA Tionghoa). Dengan sedih hati aku pulang ke kampung halaman Cilacap. Kebetulan di Cilacap dua tahun sebelumnya berdiri sebuah sekolah Tionghoa baru yang bernama Qiao Min Xue Xiao. Karena SD Alma Materku sudah dirubah dijadikan Sekolah Nasional. Ini akibat dari perebutan kekuasaan antara pro RRT dan KMT di THHK Cilacap dan mengakibatkan kekuatan tengah-kanan dari warga Tionghoa di Cilacap merebut gedung sekolah THHK dan meritulnya jadi sekolah nasional.

  Aku mengajar di sekolah Qiao Min Xue Xiao. Tapi baru setahun mengajar, pamanku di Jakarta mengundangku kesana supaya dapat dengan anaknya yakni saudara misanku sekolah SMA bersama-sama. Hatiku tentu bersorak sorai karena cita-citaku terwujud. Demikianlah akhir semester aku melepaskan jabatan dan pergi ke Jakarta. Aku sekolah di SMA Hua Chung. Tapi ya Allah, baru saja satu setengah tahun aku sekolah di Hua Chung, kementerian PPK pemerintah Indonesia mengeluarkan undang undang, melarang sekolahan sekolahan asing menerima/mengajar murid murid warga negara Indonesia. Dus semua WNI sebelum 1 Januari 1958 harus meninggalkan semua sekolahan sekolahan asing. Apa boleh buat, pada 1 Januari 1958 aku terpaksa dengan hati cemas meninggalkan Hua Chung dan daftar masuk sekolahan JPP. Di JPP baru duduk selama triwulan atau 1/2 tahun, pamanku menawarkan aku untuk kerja di satu bank di Pintu Besar. Aku dengan senang menerimanya.

  Aku tinggal di Jatinegara, ini berarti aku tiap hari harus berjumbel berdesak dan tergesa-gesa mengejar kereta listrik menuju kantor. Dlm. keadaan demikian aku merasa jasmani dan rohaniku tergenjet, aku merasa tercecer. Tapi dalam kereta yang panas penuh sesak dan melaju pelan pelan. Aku berkesempatan membaca aneka buku buku dan harian harian. Diantaranya aku membaca harian Suluh Indonesia. Aku tertarik dengan karya Pramoediya Ananta Toer yang dimuat berturut tentang masalah Hoakiao. Terus terang aku amat simpatik dan prihatin pada nasib hoakiao di Indonesia. Aku sendiri harus meninggalkan bangku sekolah, dan itu Assaat secara menghasut, gembar gembor menuntut dengan keras supaya pemerintah melindungi pedagang Indonesia asli. Dengan terang-terangan ia mempelopori penggunaan istilah WNI asli dan WNI keturunan asing. Lagi,jangan lupa itu Pajak Bangsa Asing dan akhirnya PP 10. Aku berpikir mengapa sipenguasa sewenang-wenang mengijak injak perikemanusiaan dan memperlakukan hoakiao secara kasar blutal dan kejam ? Bait bait tulisan Pak Pram masuk benakku "Apakah ini perbuatan yang bertanggungjawab mengobrak-abrik rumahtangga orang dan memaksa mereka meninggalkan sumber penghidupannya? "

  Tiba Hari Natal dan hari raya tahun baru 1960, bank libur panjang aku pulang ke Cilacap. Pada suatu hari ditengah jalan aku berpapasan dengan kepala sekolah dimana aku pernah jadi guru. Ia minta supaya aku membantunya bekerja untuk menjemput / mengangkut para hoakiao di desa-desa sekeliling kota Cilacap yang terkena PP 10 untuk ditapung di Cilacap dan selanjutnya di angkut ke Semarang untuk menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Tiongkok. Aku serta merta menjawab OK. Aku turba dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa para korban PP.10 benar benar sengsara dan mengenaskan. Mereka bilang, "Omong gampang suru kami pindah kekota. Dikota kita tinggal dimana? makan apa? Ya, kami pulang sajalah, sedikit-dikitnya pemerintah RRT sudi membantu kami. Dan didunia ini satu satunya pemerintah yang sudi menapung kami". Aku amat terharu mendengar ucapannya dan amat sedih melihat keadaan mereka. Aku merasa PP 10 ini Peraturan konyol ! Hati sanubariku tertusuk. Aku harus bangkit. Aku harus ikut menentang dan melawan.

  Aku balik ke Jakarta. Aku bertekad untuk meninggalkan tanah tumpah darahku Indonesia. Aku akan bergabung dengan mereka korban korban peraturan konyol PP 10.

  23 Juli 1960 aku ikut rombongan dan hui guo.


*********************


  Aku hok gie ,hidupku selama 14 th. di RRT lancar. Aku lulus dari Universitas dan dipekerjakan di kota Nanning Propinsi Guang Xi. Disana aku berumah tangga dan dikaruniahi seorang putra.

  Dan akhirnya,kenapa pindah ke Hong Kong ?

  Tiap individu mempunyai alasan dan sebab-sebabnya tersendiri. Tidak semestinya dengan gegabah dipersamakan.

  Aku pribadi berpendapat dan merasakan pemerintah RRT kala itu,(akhir 50an hingga awal 70an abad silam) masih berpegang dan menjalankan politik extrim kiri. Perhubungan dengan dunia luar dapat dikatakan terputus sama sekali. Ingat ,ayah ibu dan kakak adik kami yakni aku dan isteriku, semua di Indonesia. Kita maklum bahwa tiap manusia tentu memiliki perasaan pertalian darah, setelah sekian tahun berpisah dengan ayah bunda dan saudara sekandung, tentu tumbuh perasaan kangan untuk bertemu kembali. Ini logis dan human. Selain ini, jangan pantang menggugat politik extrim kiri, itu sangat inhuman. Gerakan gerakan politik dilancarkan bertubi-tubi dan bertele-tele, sangat membosankan dan kadang mengerikan. Sebagai puncaknya meletuslah apa yang disebut Revolusi Kebudayaan. Semua diobrak-abrik secara membabi-buta dan ganas. Kami merasa antipati dan muak. (kami beruntung selama kami hidup di RRT kami tak terlanda mala petaka apapun).

  Kegalauan dan kekacauan extrim kiri yang merusak fatal ini akhirnya direm dan pemerintah setapak demi setapak meritulnya. Maka keluarlah ketentuan yang humanity: Perantau Tionghoa yang sudah kembali ke tanah air dan mereka-mereka yang mempunyai syarat tertentu, diizinkan untuk balik ke negeri asalnya atau pergi ke Hong Kong untuk bertemu dengan sanak saudara mereka.

  Nah, jejak selanjutnya terserah pada kami. Kami memilih keluar ke Hong Kong karena dengan demikian kami pada suatu hari berkesempatan untuk berjumpa dengan ayah bunda kami. Dan, terus terang, juga menjauhi dan menghindari segala kegaduhan politik extrim kiri yang tak tahu kapan bakal balik melanda di RRT.

  Alhamdulillah, syukur seribu syukur, seperti Indonesia kini sudah meninggalkan apa yang dinamakan Orba dan masuk era reformasi. RRT juga telah mengatasi situasi yang kacau balau dan tertib kembali. Step by step negeriku RRT sedang menuju ke masyarakat berkecukupan.

  Mana kala tahun 1997 mendekat, banyak orang Hong Kong merasa gelisah dan memeras otak untuk cari pintu exit menuju dunia barat. Sebaliknya aku dan isteriku menentang arus gelisah ini, dan bertekad untuk balik keutara melewatkan hari tua.

  Akhirnya kami membeli sebidang tanah kecil dan mendirikan sebuah rumah di Zhong Shan San Xiang. Kami pilih tempat tersebut karena kala itu pemandangan daerah itu mirip seperti panorama pegunungan Dieng kampung halaman isteriku.

  Tahun 1 Juli 1997 Hong Kong balik kepangkuan Ibu Pertiwi Tiongkok. Dua bulan kemudian aku pensiun.

  Kini kami merasa hidup senang dan bahagia di Zhong Shan dan Hong Kong.





返回列表